Senin, 31 Oktober 2011

Menjadi Pembelajar Sejati

Menjadi Pembelajar Sejati


 

Pembelajar itu apa sih? Sama nggak dengan pelajar?

Beda lagi…! Kalau pelajar itu seseorang yang bersekolah atau belajar di tempat tertentu, sedangkan kalau pembelajar itu artinya orang yang senang belajar. Di mana saja ia belajar, di sekolah, di rumah, di bus, di pantai bahkan di kamar mandipun ia belajar pokoknya dimanapun ia berada.

Pasti bayanganmu tentang pembelajar itu orangnya tidak fungky, tidak cool, dan tidak gaul, jutek, dan ngebetein banget. Ke mana pun dia pergi bawa buku. Wah, itua sih salah! Simak nih tanda-tandanya :

  1. Fungky


Artinya kamu pintar bergul dan jeli membaca zaman. Caranya yaitu dengan banyak baca buku, banyak bertanya (kalau memang bener-bener tidak tahu), dan banyak berteman.

  1. Cool


Artinya kamu bijak, menyenangkan bagi orang yang ada di sekitarmu. Kamu banyak di cari orang karena kamu punya sikap atau akhlak yang mulia

  1. Jazzy


Artinya kamu gampang berimprovisasi, nggak malu-maluin. Kamu juga pinter memanfaatkan waktu. Tidak ada yng sia-sia, apa pun kondisi dan situasinya, kamu tidak akan kehilangan akal dan daya kreatifitas.

  1. Fun


Artinya kamu bergembira, tidak mudah sedih.ketika kamu menghadapi keulitan, tidak mudah stress dan marah. Pekerjaan yang ringan, sedang, dan berat, selalu di hadapidengan pikiran tenang tapi tetap konsentrasi dan waspada.

  1. Care


Artinya kamu peduli pada nasib semua orang bahkan semua makhluk. Kamu bisa memulainya dengan mengombinasikan antara membaca, bersyukur, berteman, dan mengamati. Tidak cue kbebek lah! Selalu memberikan perhatin dan kepedulian terhadap sesame, tidak egois dan serakah.

So, setiap pelajar harusnya adalah pembelajar. Tapi untuk jadi pembelajar tidak harus jadi pelajar dulu. Tidak keburu pusing, kan? Coba dulu, deh!!!

Minggu, 30 Oktober 2011

Berzakat , Why Not?

Berzakat , Why Not?


 

Di setiap bulan ramadhan tiba, pembicaraan selain hal-hal yang berhubungan dengan puasa adalah masalah zakat. Lebih-lebih di 10 hari akhir bulan ramadhan, hampir semua penceramah di masjid, mushola, TV, radio, dll. mengupas habis masalah ini.

Zakat mempunyai cakupan masalah yang sangat luas, bukan soal member dan menghitung saja, tapi juga memperdayakan secara maksimal yang seharunya di kaji, dikelola dan di kembangkan sesuai dengan keinadaan kehidupan masyarakat, kapan saja dan di mana saja.

Kita tahu pada dasarnya zakat (khususnya harta/mal) menjadi kewajiban atas kepemilikan harta benda (kekayaan) yang berkembang baik dengan sendirinya maupun dengan pengolahan, demi meningkatkan nilai moral para pemiliknya dan sekaligus menjadi bantuan bagi mereka yang tidak berkecukupan atau mereka yang tidak punya. Sehingga terjadi pemekaran dalam masyarakat dan bagi harta itu sendiri. Sehingga zakat bukanlah pemberian belas kasihan, tapi merupakan hak dari pihak-pihak tertentu untuk menerima harta kekayaan tersebut.

Di dalam islam, zakat merupakan salah satu ajaran yang menjadi landasan system perekonomian masyarakat, baik zakat fitrah maupun zakat mal (kekayaan). Karena system perekonomian dalam islam itu menganut keyakinan bahwa Allah adalah pemilik asal harta benda dan karenanya dia berhak mengatur masalah kepemilikan, hak-hak dan penyalurannya.

Penumpukan dan pembekuan harta adalah tindakan yang tidak benar. Untuk menggambarkan betapa pentingnya kedudukan zakat, Al Qur’an menyebutkan sampai 72 kali bersamaan  dengan perintah shalat seperti dalam QS Al baqarah: 43, QS Al maidah: 55, QS Al mu’minun: 4, dll. Bahkan Rasullulah  menempatkan zakat sebagai salah satu unsur dari kelima unsur bangunan keislaman.

Kalau kita telusuri secara mendalam, ibadah zakat merupakan salah satu aspek yang paling menonjol dalam rangka membangun kepedulian kepada sesame manusia. Al Qur’an sebagai sumber utama dalam menyampaikan pesan zakat mengajarkan pada kita bahwa hidup menyendiri tanpa memperhatikan lingkungan sosialnya, sama sekali bertentangan dengan semangat hidup sebagai makhluk social.

Senin, 24 Oktober 2011

Bye, bye… Nyontek!!!


Bye, bye… Nyontek!!!




Pengalaman adalah guru yang paling bijaksana. Pepatah itu memang cocok untuk si oman yang  sekarang kuliah di salah satu PTS yang berkualitas rendah. Dulu sejak masih sekolah di  SMU, si oman begitu bersemangat ingin masuk  perguruan tinggi negeri  (PTN) unggulan. Tapi sayangnya, si oman tidak mengimbangi keinginan itu dengan kesungguhan belajar, tapi malah mengasah “kepandaiannya” dengan membiasakan diri mencontek, baik melalui catatan kecil yang dibuat maupun “ngelirik” temannya setiap kali diadakan ulangan harian, semesteran maupun ujian akhir.

Hasilnya? Wow… bagus sekali! Bahkan dia termasuk kategori  10 besar di sekolahnya dengan  NEM  yang cukup memuaskan. Dia sangat bangga, bahkan orang tua oman seakan mendapatkan anugrah yang amat besar  karena mereka tidak menyangka kalau anaknya ternyata mampu “sukses” di sekolah.

Namun , bersamaan dengan keinginan dia yang mengebu mau masuk PTN unggulan dan hrapan orang tua yang begitu tinggi terhadapnya justru dia merasa sesuatu yang sangat menakutkan. Suasana batin gundah-gulana karena dia sendiri tidak yakin akan mampu menembus ujian SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) yang akan segera di hadapi. Hari-harinya gelisah, perut mual, kepala pening karena waktunya hampir dekat, seraya “berdoa” agar pada waktu  SPMB nanti ada peluang untuk melakukan kebiasaan seperti ketika di SMU, yaitu nyontek.

SPMB kurang sehari, si oman telah mempersiapkan diri dengan banyak kebetan dan mencoba mencari kabar burung kalau-kalau ada bocoran yang bisa di beli. Ketika SPMB tiba dan posisi duduknya sangat tidak menguntungkan sementara keamanan begitu ketat yang mengawasi gerak-gerik peserta ujian. Soal-soal dilihat satu persatu dan diutak-atik. Hampir 90% tidak bisa di jawabnya. Akhirnya hampir seluruh soal ujian di jawab berdasarkan  felling atau perasaan yang kira-kira cocok, alias ngawur abis. Hasilnya? Sangat mudah di tebak dan si oman sudah tahu jawabannya sebelum penggumuman hasil SPMB disebarkan lewat media masa.

Dia kecewa berat dan ortunya pun bertanya-tanya, kenapa gerangan anaknya yang mempunyai NEM tinggi tidak mampu menembus SPMB. Akhirnya, si “raja nyontak” hanya mampu kuliah di PTS yang berkualitas rendah.

Penggalan kisah si oman tersebut bukan isapan jempol belaka atau dongeng yang jauh dari dunia pendidikan kita. Kita harus mengakui bahwa budaya nyontek di kalangan pelajar, sudah sangat memprihatinkan. Sejak masih sekolah di SD, SMP, SMU bahkan di PT sampai saat ini belum bisa hilang. Bahkan budaya  mencari bocoran jawaban masih sangat digemari oleh kebanyakan pelajar sekolah. Ada juga orang tua yang dengan sengaja mencarikan bocoran buat anaknya agar mendapatkan nilai yang bagus.

Kalau kamu masih suka nyontek atau mencari bocoran jawaban, maka bersiap-siaplah seperti si oman. Janganlah kamu bangga dengan nilai-nilai bagus jika kamu dapatkan dari contekan atau bocoran. Lebih baik nilai kamu pas-pasan tapi berdasarkan kemampuan dan kejujuran.

Pekerjaan nyontek membuat kamu menjadi seorang pemimpi dan tidak tahu terima kasih, baik pada diri sendiri, orang tua, guru maupun masyarakat. Yang menyebabkan seseorang suka nyontek adalah karena orang tersebut kehilangan kepercayaan diri. Orang yang pede adalah ketika ia mempunyai keinginan yang kuat diimbangi dengan usaha yang maksimal tanpa membohongi diri sendiri.

Ketika seseorang menyontek berarti dia tidak mempunyai keyakinan bahwa dirinya mampu dengan bekal yang memungkinkan untuk menyelesaikan tugas itu. So, dia sebenrnya tidak sadar bahwa dia sedang menggali kuburannya sendiri untuk menutupi kelemahannya yang dimiliki. Dan kalau kuburannya sudah digali, maka tinggal menunggu waktu “matinya” masa depan yang cerah.

Menurut istilah Hujjatul islam, imam ghazali, seseorang yang mencontek dia sedang terserang penyakit hati. Setidaknya, penyakit hati atau batin yang diidap oleh “si tukang nyontek” baik yang masih amatiran atau sudah professional adalah:

  1. Nyontek adalah perbuatan yang jelas-jelas menggiring pelakunya menghianti diri sendiri, guru, orang tua dan masyarakat. Belajar dengan jujur itu adalah amnah (kepercayaan).

  2. Nyontek mengajarkan sikap pengecut kepada para pelakunya. Ibarat orang yang sedang berantem, satu lawan satu tanpa alat apa pun dia nggak berani. Tukang nyontek biasanya curang,tidak berani melawan dengan tangan kosong.

  3. Nyontek akan menghilangkan berkah Allah. Apalah arti nilai rapor atau NEM yang tinggi kalau itu hasil “curian”, sudah pasti Allah tidak akan pernah meridhainya. Hilangnya berkah dari Allah akan berakibat langsung pada kehidupan seseorang di masa depan.


Karena itulah, kamu sebaiknya menjahui kebiasaan tersebut agar hidup ini dapat kamu jalani dengan tenang dan mendapatkan kesuksesan sejati serta keberkahan dari Allah. Sekali lagi: “selamat tinggal, nyontek!!!”