Pengalaman adalah guru yang paling bijaksana. Pepatah itu memang cocok untuk si oman yang sekarang kuliah di salah satu PTS yang berkualitas rendah. Dulu sejak masih sekolah di SMU, si oman begitu bersemangat ingin masuk perguruan tinggi negeri (PTN) unggulan. Tapi sayangnya, si oman tidak mengimbangi keinginan itu dengan kesungguhan belajar, tapi malah mengasah “kepandaiannya” dengan membiasakan diri mencontek, baik melalui catatan kecil yang dibuat maupun “ngelirik” temannya setiap kali diadakan ulangan harian, semesteran maupun ujian akhir.
Hasilnya? Wow… bagus sekali! Bahkan dia termasuk kategori 10 besar di sekolahnya dengan NEM yang cukup memuaskan. Dia sangat bangga, bahkan orang tua oman seakan mendapatkan anugrah yang amat besar karena mereka tidak menyangka kalau anaknya ternyata mampu “sukses” di sekolah.
Namun , bersamaan dengan keinginan dia yang mengebu mau masuk PTN unggulan dan hrapan orang tua yang begitu tinggi terhadapnya justru dia merasa sesuatu yang sangat menakutkan. Suasana batin gundah-gulana karena dia sendiri tidak yakin akan mampu menembus ujian SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) yang akan segera di hadapi. Hari-harinya gelisah, perut mual, kepala pening karena waktunya hampir dekat, seraya “berdoa” agar pada waktu SPMB nanti ada peluang untuk melakukan kebiasaan seperti ketika di SMU, yaitu nyontek.
SPMB kurang sehari, si oman telah mempersiapkan diri dengan banyak kebetan dan mencoba mencari kabar burung kalau-kalau ada bocoran yang bisa di beli. Ketika SPMB tiba dan posisi duduknya sangat tidak menguntungkan sementara keamanan begitu ketat yang mengawasi gerak-gerik peserta ujian. Soal-soal dilihat satu persatu dan diutak-atik. Hampir 90% tidak bisa di jawabnya. Akhirnya hampir seluruh soal ujian di jawab berdasarkan
felling atau perasaan yang kira-kira cocok, alias ngawur abis. Hasilnya? Sangat mudah di tebak dan si oman sudah tahu jawabannya sebelum penggumuman hasil SPMB disebarkan lewat media masa.
Dia kecewa berat dan ortunya pun bertanya-tanya, kenapa gerangan anaknya yang mempunyai NEM tinggi tidak mampu menembus SPMB. Akhirnya, si “raja nyontak” hanya mampu kuliah di PTS yang berkualitas rendah.
Penggalan kisah si oman tersebut bukan isapan jempol belaka atau dongeng yang jauh dari dunia pendidikan kita. Kita harus mengakui bahwa budaya nyontek di kalangan pelajar, sudah sangat memprihatinkan. Sejak masih sekolah di SD, SMP, SMU bahkan di PT sampai saat ini belum bisa hilang. Bahkan budaya mencari bocoran jawaban masih sangat digemari oleh kebanyakan pelajar sekolah. Ada juga orang tua yang dengan sengaja mencarikan bocoran buat anaknya agar mendapatkan nilai yang bagus.
Kalau kamu masih suka nyontek atau mencari bocoran jawaban, maka bersiap-siaplah seperti si oman. Janganlah kamu bangga dengan nilai-nilai bagus jika kamu dapatkan dari contekan atau bocoran. Lebih baik nilai kamu pas-pasan tapi berdasarkan kemampuan dan kejujuran.
Pekerjaan nyontek membuat kamu menjadi seorang pemimpi dan tidak tahu terima kasih, baik pada diri sendiri, orang tua, guru maupun masyarakat. Yang menyebabkan seseorang suka nyontek adalah karena orang tersebut kehilangan kepercayaan diri. Orang yang pede adalah ketika ia mempunyai keinginan yang kuat diimbangi dengan usaha yang maksimal tanpa membohongi diri sendiri.
Ketika seseorang menyontek berarti dia tidak mempunyai keyakinan bahwa dirinya mampu dengan bekal yang memungkinkan untuk menyelesaikan tugas itu.
So, dia sebenrnya tidak sadar bahwa dia sedang menggali kuburannya sendiri untuk menutupi kelemahannya yang dimiliki. Dan kalau kuburannya sudah digali, maka tinggal menunggu waktu “matinya” masa depan yang cerah.
Menurut istilah Hujjatul islam, imam ghazali, seseorang yang mencontek dia sedang terserang penyakit hati. Setidaknya, penyakit hati atau batin yang diidap oleh “si tukang nyontek” baik yang masih amatiran atau sudah professional adalah:
- Nyontek adalah perbuatan yang jelas-jelas menggiring pelakunya menghianti diri sendiri, guru, orang tua dan masyarakat. Belajar dengan jujur itu adalah amnah (kepercayaan).
- Nyontek mengajarkan sikap pengecut kepada para pelakunya. Ibarat orang yang sedang berantem, satu lawan satu tanpa alat apa pun dia nggak berani. Tukang nyontek biasanya curang,tidak berani melawan dengan tangan kosong.
- Nyontek akan menghilangkan berkah Allah. Apalah arti nilai rapor atau NEM yang tinggi kalau itu hasil “curian”, sudah pasti Allah tidak akan pernah meridhainya. Hilangnya berkah dari Allah akan berakibat langsung pada kehidupan seseorang di masa depan.
Karena itulah, kamu sebaiknya menjahui kebiasaan tersebut agar hidup ini dapat kamu jalani dengan tenang dan mendapatkan kesuksesan sejati serta keberkahan dari Allah. Sekali lagi:
“selamat tinggal, nyontek!!!”